Jumat, 06 Mei 2011

laporan


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II
PERCOBAAN I
PENURUNAN TITIK BEKU LARUTAN



NAMA                                     : KAHARUDIN
STAMBUK                             : A1C110108
KELOMPOK                          : II
PROGRAM STUDI               : PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN                               : PENDIDIKAN MIPA
ASISTEN PEMBIMBING    : FITRIA KURNIA FAEDA

LABORATORIUM UNIT KIMIA
UPT LABORATORIUM DASAR PUSAT
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011

PENURUNAN TITIK BEKU LARUTAN

  1. Tujuan Percobaan
Tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ini yaitu agar mahasiswa dapat menentukan :
    1. Tetapan penurunan titik beku
    2. BM zat non volatil
  1. Kajian Teori
Titik beku larutan ialah temperature pada saat larutan setimbang degan pelarut padatnya. Larutan akan membeku pada temperature lebih rendah dari pelarutnya. Alat yang biasa dipakai untuk menetapkan ∆Tf ialah alat dari Beckman (Sukardjo, 2002).
Titik beku adalah suhu pada perpotongan garis tekanan tetap pada 1 atm dengan kurva peleburan. Sedangkan titik didih adalah suhu pada perpotongan garis tekanan tetap pada 1 atm dengan kurva penguapan. Penurunan titik beku dan peningkatan titik didih, sama seperti penurunan tekanan uap sebanding dengan konsentrasi fraksi molnya (Petruci, 1987).
Bila suatu zat terlarut yang tidak menguap dilarutkan suatu pelarut, titik beku pelarut berkurang. Berkurangnya ∆Tf ditentukan sebagai  jika ∆Tf tidak besar sekali dan larutan tersebut ideal. Dengan bantuan titik beku, kuantitas seperti bobot molekul zat terlarut, aktivitas dan koefisien aktivitas, konstanta seperti bobot molekul zat terlarut, aktivitas dan koefisien aktivitas, konstanta disosiasi dari elektrolit lemah dan vaktor Vant Hoff dapat ditentuan (Dogra, 1894).
Ada dua jenis sifat-sifat larutan yang sama, yaitu sifat-sifat larutan yang tergantung pada jenis dan kepekatan (konsentrasi) zat terlarut. Sedangkan sifat yang kedua adalah sifat yang tidak tergantung pada jenis zat terlarut namun hanya tergantung pada konsentrasi zat terlarut saja. Ini menandakan bahwa larutan yang memiliki konsentrasi saat akan memberikan sifat yang sama. Sifat larutan yang termasuk golongan ini disebut  sifat-sifat koligatif ( Purba, 1987 : 72).        
Jika zat terlarut bersifat tidak mudah menguap (nonvolatile, artinya tidak memiliki tekanan uap yang dapat diukur), tekanan uap dari larutan selalu lebih kecil dari pada pelarut murninya. Jadi hubungan antara tekanan uap larutan dan tekakan uap pelarut bergantung pada konsentrasi zat terlarut dalam larutan. Hubungan iotu dimasukkan dalam hukum Raoult (dari nama kimiawan Perancis Francois Raoult), yang menyatakan bahwa tekanan parsial pelarut dari larutan, Pp adalah tekanan uap pelarut murni, Pi˚ dikalikan fraksi mol pelarut dalam larutan, Xi = Pi = XiPi˚ (Chang, 2004 : 12).
  1. Alat dan Bahan
Adapun bahan yang kami gunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1)      Naftalena
2)      Asam cuka glacial
3)      Garam dapur
4)      Es
5)      Zat X
6)      Air
Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1)      Thermometer
2)      Stopwatch
3)      Gelas kimia
4)      Pengaduk

D. Prosedur kerja
1.       Penurunan Titik Beku Asam Asetat Glasial
  


 



                                         - dimasukkan


 



                                         - dimasukan kedalam tabung gelas D


 



                                         - dimasukkan kedalam tabung gelas E yang
                                            berisi air es dan garam dapur
                                         - dicatat suhu setiap menit
Titik beku (Tf˚ )
 
                                         - diamati pelarutnya
                                        


1.      Penurunan Titik Beku Asam Asetat


 



                                                  - dimasukkan


 



                                                   - dimasukkan kedalam tabung gelas D


 



                                                   - dimasukkan kedalam tabung gelas E
                                                   - dicatat suhu setiap menit
Titik beku (Tf )
 
                                                   - diamati pelarutnya
2.      Penurunan BM Zat X



 



                                                   - dimasukkan kedalam tabung gelas B yang
                                                     berisi asam Asetat glacial dan naftalena


Tabung gelas B
 
 


                                                  
                                                   - dimasukkan kedalam tabung gelas D


 



                                                   - dimasukkan kedalam tabung gelas E
                                                   - dicatat suhu setiap menit
                                                   - diamati pelarutnya
Titik beku (Tf)
 
                                              


Titik beku (Tf˚ )
 
E. Hasil pengamatan
      1. penurunan titik beku Asam asetat glacial
                  Volume asam cuka      : 10 mL
                  Berat jenis asam cuka  : 1.06 g/mL
                  Berat asam cuka          : 10.6 g
Waktu/menit
2
5
7
10
15
20
30
Suhu (oC)
23
12
11
11
11
11
11
            Titik beku asam cuka Tfo = 11 oC
2. penurunan tetapan titik beku asam asatat glasial
      Berat naftalena            = 0.1 g
Waktu/menit
2
5
7
10
15
20
30
Suhu (oC)
10
9
8
8
8
8
8
      Titik beku larutan naftalena    = 8 oC
      ∆Tf  naftalena                          = 1 oC
      Karena ∆Tf = Tfo pelarut – Tfo larutan = 11 oC – 8 oC = 3 oC
3. penentuan BM zat X
      Volume asam cuka      = 10 mL
      Berat asam cuka          = 10.6 g/mL
      Berat zat X                  =  0.1 g
     
Waktu/menit
2
5
7
10
15
20
30
Suhu (oC)
9
9
9
8
7
5
5
      Titik beku larutan zat X                      = 5 oC
      Penurunan titik beku larutan X           = 6 oC
Maka untuk menentukan penurunan tetapan titik beku yaitu :
Dik:           massa larutan / pelarut asam asetat (p) = 10.6 g
                  Massa naftalena (g)     = 0.1 gram ; Mr = 128 g/mol
Sehingga :
                 
                   =  41.095
BM zat X yaitu :
        =  = 64.61 g/mol
F.      PEMBAHASAN
   Penurunan titik beku larutan merupakan turunnya titik beku larutan dari titik beku pelarutnya. Terjadi penurunan titik beku pada suatu larutan karena adanya penambahan zat terlarut nonvolatile ke dalam suatu pelarut. Keberadaan partikel-partikel zat terlarut menghalangi proses pengaturan molekul-molekul dalam pembentukan susunan kristal padat, sehinggga diperlukan suhu yang lebih rendah untuk mencapai susunan kristal padat dari fasa cairnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan titik beku (∆Tf) suatu larutan yang ke dalamnya ditambahkan zat terlarut.
Untuk menentukan tetapan penurunan titik beku, pertama-tama tentukan dulu ∆Tf yang diperoleh dengan rumus ∆Tf = Tfo pelarut – Tfo larutan . Titik beku asam cuka bewrdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh Tfo = 11 oC. pada awal pengukuran atau pada waktu 2 menit suhunya 23 oC dan pada waktu 7 menit suhu turun menjadi 11oC dan suhu ini tetap atau konstan pada waktu 30 menit kemudian. Jika suhu larutan tidak mengalami penurunan lagi atau suhunya konstan maka suhu tersebut dikatakan sebagai titik beku larutan dan untuk asam asetat glacial kali ini mempunyai titik beku (Tfopelarut) = 11 oC.
Tahap selanjutnya yaitu mencari Tfo larutan. Pada percobaan kali ini Tfo larutan adalah 8 oC. pada awal pengukuran atau pada waktu 2 menit suhunya 10 oC dan pada waktu 7 menit suhu turun menjadi 8 oC dan suhu ini tetap atau konstan pada waktu 30 menit kemudian sehingga titik beku larutan naftalen adalah 8 oC. Karena  Tfo pelarut dan Tfo larutan telah diketahui maka ∆Tf dapat diketahui yaitu 3 oC. Sehingga  tetapan penurunan titik beku dapat diketahui melalui persamaan dan tetapan penurunan titik bekunya adalah 41.095 dengan volume 10 mL, massa jenis asam cuka 1,06 g/mL, maka dapat diketahui berat asam cuka = massa jenis x volume = 1,06 x 10 = 10,6 g.
         Pada percobaan selanjutnya yaitu menentukan BM zat X, pertama-tama tentukan dulu ∆Tf yang diperoleh dengan rumus ∆Tf = Tfo pelarut – Tfo larutan . Pada penentuan titik beku asam cuka (Tf˚ ) dengan volume 10 mL, berat jenis asam cuka 1,06 g/mL dan berat zat X 0,1 gram diperoleh Tf larutan adalah 5 oC  dan Tf˚ pelarut kali ini telah diperoleh pada percobaan sebelumnya yaitu 11 oC sehingga ∆Tf adalah 6 oC.
Sehingga BM zat X dapat ditentukan dengan persamaan  dengan tetapan yang telah diketahui yaitu 41.095 maka BM zat X adalah 64.61 g/mol
G.     PENUTUP
1.      Kesimpulan
               Dari praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu :
1.      Tetapan penurunan titik beku molal larutan (Kf) dapat ditentukan dengan melakukan percobaan dan persamaan yang digunakan adalah  
2.      BM menunjukkan banyaknya zat dalam gram tiap mol zat tersebut yang dapat ditentukan melalui proses perhitungan yaitu .
2.      Saran
Agar praktikan lebih aktif lagi dalam melakukan percobaan sehingga tujuan dari praktikum dapat dicapai dengan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti. Erlangga. Jakarta.

Dogra, SK dan S Dogra. 1984. Kimia Fisik dan Soal-soal. UI-Press. Jakarta.

Petruci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Erlangga. Jakarta.

Purba, Michael. 1987. Kimia Dasar. Erlangga. Jakarta

Sukardjo. 2002. Kimia Fisika. Rineka Cipta.Yogyakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar